Sabtu, 05 Oktober 2013

INGIN JADI ANGGOTA LEGISLATIF ATAU MENANG PILKADA ? HUB : 085213649999

KONSULTAN PEMENANGAN PEMILU GIOVANNY REASERCH CENTER

( GRC )



Ada 3 Tahapan dalam menguasai Strategi Pemenangan Pemilu

TAHAP PRA KONDISI

Pemilu layaknya seorang Jendral yang  sedang mempersiapkan  pasukan yang akan berperang di Medan tempur

Pertanyaanya Apa yang harus di PERSIAPKAN sebelum berperang di medan tempur ?

‌1.Mempersiapkan PRAJURIT/ TEAM SUKSES  yang kuat, cakap dan terampil.

‌2.Mempersiapkan Senjata, Amunisi, alat transportasi, perlengkapan atau LOGISTIK yang terukur. Efektif. Efesien.

Hal apalagi yg paling penting DIKETAHUI sebelum berperang ?  Informasi Intelijen ?

  3. Informasi Strategis ?
      a. Siapa lawan
      b. Wilayah lawan

‌1. Mapping (bagaimana mengenali lawan dan mengenali wilayah lawan dan basis suara kita dengan baik

‌2. Mengetahui Isu Strategis yg aktual, laten dan tabu dimasyarakat )

Karena berperang tanpa mengenali lawan dan Medan tempur adalah setengah kekalahan

Berperang di Medan Tempur dengan Pemilu adalah merebut suara.

Sebelum masuk pada Tahap Kondisional saya mengajak untuk mengetahui perangkat Mapping dan materinya

Perangkat Mapping
‌Riset Basis Suara ( menginventarisir form C1 atau D1 dua pemilu lalu, mengetahui Aturan Pemilu yg aktual )
‌Mengukur Potensi Caleg.
‌Survey : Kenal  Terima Pilih (KTP)
    Kenal belum tentu di
    Terima, diterima be
    Lum tentu di Pilih.
    Setiap Tahap lakukan survei.

TAHAP KONDISIONAL

‌Mampu Menentukan dan Mengestimasi kebutuhan logistik Pemilu dengan Terukur, efektif dan efesien : Kaos, kalender, alat peraga, bendera, spanduk, baleho, sembako, alat peraga pencoblosan dsb.
‌Sosialisasi Rencana Program demi Memperjuangkan Hak Umat ke Simpul Masyarakat, tokoh agama, adat dan ormas2 dan khalayak masyarakat.
‌Menangkal dan membuat Isu Strategis, membuat Pelatihan agitasi Propaganda guna membangun opini yang memihak ke PPP  . (Memanfaatkan Fungsi Medsos dan Membentuk Media Group Relation)
‌Membentuk team penjaring Suara berbasis Kecamatan/ Kelurahan/ TPS, saksi-saksi di TPS
‌Membentuk Team Survey Quick Count dan Exit Pool

TAHAP PASKAH KONDISIONAL

‌Bentuk team pengaman suara
‌Mengumumkan hasil Exit Pokok dan Quick Count atas kemenangan PPP
‌Bentuk team Pembela Hukum untuk  melakukan Gugatan di MK jika diperlukan.

Kesimpulan :
1. Strategi sangat penting krn pada saat pemilu kita dapat mengenali lawan dan wilayah dengan baik .
2. Logistik terukur
3. Sosialisasi kampanye menyentuh sasaran.
4. Mempertahankan dan merebut jumlah suara dengan jitu .
5. Menentukan Timeframe / Time Tablet dalam melakukan penetrasi program.
6. Mengenal Stake Holder  pemilu dari Ketua TPS sd Ketua KPUD .
7. Membidik peluang suara mengambang dan golput.



TENTANG GIOVANNY RESEARCH CENTER


Jasa Survei


Giovanny Research Center (GRC) menyediakan jasa riset bagi berbagai kalangan yang berkepentingan dengan opini publik, terutama yang terkait dengan kontestasi politik seperti pemilihan umum nasional maupun daerah dan pembuatan kebijakan publik yang responsif terhadap aspirasi masyarakat. Data hasil survei akan membantu mengevaluasi dan memperbaiki kinerja pejabat publik, politisi, partai politik, lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga sosial-kemasyarakatan.
Giovanny Research Center melakukan 2 (dua) jenis survei:
1) Survei Publik (non-komersial) yang dilakukan atas permintaan lembaga-lembaga publik, baik domestik maupun international dan untuk dipublikasikan. Survei ini berskala nasional dan dilakukan rutin setiap 3 (tiga) bulan sekali.
2) Survei Komersial yang dilakukan atas permintaan individu, kelompok atau lembaga swasta lainnya. Hasil survei ini sepenuhnya untuk klien dan tidak dipublikasikan kecuali klien bersangkutan menghendakinya.
Omibus: menitipkan pertanyaan
GRC membuka kesempatan kepada lembaga atau individu yang hendak mendapatkan data dan informasi spesifik sesuai kebutuhannya. Hal tersebut dilakukan dengan cara menitipkan sejumlah pertanyaan kedalam survei rutin yang dilakukan GRC.
GRC akan mengenakan biaya yang terjangkau per item pertanyaan. Informasi dan data tersebut akan menjadi milik eksklusif lembaga dan individu yang bersangkutan selama tiga tahun.
Ini adalah cara praktis dan efisien untuk mendapatkan data survei berskala nasional maupun lokal dengan biaya lebih murah.

Program Survei

Giovanny Research Center memiliki sejumlah program


    • Survei Pemilu Nasional (Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden)
    • Survei Pemilu Lokal atau Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung (Pilkada) baik ditingkat Provinsi, kabupaten dan Kota.
    • Survei Evaluasi Publik atas Kinerja Lembaga Eksekutif, Lembaga Legislatif, maupun Yudikatif pada tingkat nasional maupun lokal
    • Survei Evaluasi atas Kinerja Parpol, Kelompok-kelompok Kepentingan, Ormas atau Civil Society.
    • Preferensi publik atas kebijakan-kebijakan publik nasional maupun daerah
    • Survei Evaluasi publik atas hubungan antar negara dan masalah-masalah internasional.

    Survei Calon Legislatif dan Pilkada


    Survei Caleg dan Pilkada untuk apa?

    Sistem pemilihan kepala daerah secara langsung (Pilkada) atau Caleg memberikan kebebasan sepenuhnya bagi masyarakat pemilih untuk menentukan siapa kandidat kepala daerah yang akan mereka pilih.
    Kandidat yang akan dipilih masyarakat menjadi sangat tergantung pada popularitas (keterkenalan) yang bersangkutan di masyarakat pemilihnya. Tingkat popularitas para kandidat itu bisa diukur dengan metode ilmiah yang akurat, yakni survei popolaritas bagi kandidat.
    Hasil survei tersebut dapat menjadi masukan amat penting untuk melihat secara riil kekuatan dan kelemahan kandidat sekaligus untuk menghadapi masa kampanye yang akan segera dilakukan. Hasil survei juga membimbing kandidat dan tim sukses tentang apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan peluang terpilih dalam Pilkada nanti.
    Informasi tentang pendapat, aspirasi dan harapan warga negara juga mutlak bagi karir politik dari calon pejabat-pejabat publik atau yang sedang menjabat (incumbent). Karir politik mereka juga ditentukan sejauhmana mereka responsif terhadap partisipasi warga negara tersebut.

    Manfaat apa yang bisa diambil dari Survei Pileg dan Pilkada?

    Mengetahui Popularitas Para Kandidat dan Kemungkinan Tingkat Keterpilihannya (Electebility) 
    Seberapa luas pemilih setempat mengenal kandidat. Dalam Pemilihan Kepala Daerah atau Pemilihan Caleg secara langsung, popularitas adalah modal paling dasar yang harus dipunyai oleh seorang kandidat. Survei berguna untuk ini mengukur sejauh mana tingkat pengenalan publik terhadap kandidat. Bagaimana tingkat kesukaan publik terhadap kandidat? Faktor apa saja yang disukai dan tidak disukai dari seorang kandidat? Bagaimana perbandingan popularitas seorang kandidat dibandingkan kandidat lain, kapan kandidat mendapat dukungan kuat dan kapan melemah.
    Mengetahui Bagaimana Pandangan Pemilih Terhadap Isu-Isu Penting di Daerahnya (problem & Isue mapping)
    Bagaimana penilaian masyarakat atas isu penting di daerah saat ini? Isu-isu apa yang dianggap penting? Bagaimana sikap mereka terhadap satu isu tertentu? Berapa banyak yang pro dan kontra? Sejauh mana pemilih cukup terlibat atau tidak dengan isu dan persoalan di daerah? Program apa yang diinginkan oleh pemilih? Kebijakan apa yang dibutuhkan oleh pemilih setempat? Tindakan apa yang menurut pemilih penting dilakukan? Prioritas apa saja yang diinginkan oleh mereka?
    Mengetahui Tingkat Kepuasaan Publik terhadap Berbagai Kebijakan Pembangunan dan Kinerja Pemerintah Daerah atau Kinerja Legislatif Yang Sedang Berjalan
    Salah satu kandidat utama pilkada biasanya adalah pejabat yang sedang memerintah. Apakah kepala daerah yang sekarang dianggap sukses atau gagal? Kalau sukses atau gagal, apa sebabnya? Apakah pemilih puas atau tidak puas dengan berbagai kebijakan pembangunan yang telah dibuat? Mana kebijakan yang pemilih ingin teruskan atau hentikan? Pendapat publik mengenai kebijakan pembangunan ini diperlukan untuk mengambil langkah yang tepat ketika kepala daerah yang baru sudah terpilih.
    Membantu meningkatkan dan mempertajam Strategi dan penggunaan Medium Kampanye secara Lebih Effektif (Determinasi).
    Apa yang seharusnya dilakukan oleh kandidat untuk merebut hati pemilih? Isu apa saja yang bisa dijual untuk membangkitkan sentimen positif dari pemilih? Medium apa yang paling efektif dan efisien untuk menjangkau pemilih? Media apa dan mana yang paling berpengaruh di suatu daerah? Survei menjamin kandidat dan tim suksesnya mengambil tindakan yang benar, yang didukung oleh publik. Survei adalah sumber informasi yang berharga untuk mengetahui bagaimana keinginan publik. Dengan data yang benar itu, bisa dirancang strategi kampanye yang baik.

    Survei Pileg dan Pilkada yang Kami Tawarkan

    Kami menyediakan beragam paket polling yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Ada tiga pilihan yang bisa diambil: snapshot survei, tracking survei dan panel survei.
    Snapshot Survei
    Survei akan dilakukan satu kali. Tujuannya adalah memotret suara pemilih dalam satu kesempatan ( periode waktu tertentu). Anda bisa memilih, apakah survei akan dilakukan menjelang hari pemilihan atau beberapa bulan sebelum pemilihan. Survei yang dilakukan menjelang hari pemilihan lebih ditujukan untuk mengetahui potensi suara yang bisa didapatkan kandidat kepala daerah. Sementara survei yang dilakukan jauh sebelum hari pemilihan dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran pemilih dan pilihan strategi untuk menarik pemilih. Apapun tujuannya survei dilakukan satu kali saja. Kelebihan dari paket ini, menghemat biaya. Tetapi kelemahannya, karena dilakukan satu kali tidak bisa merekam pergerakan suara pemilih. Kita tidak bisa mengetahui suara pemilih dari satiu waktu ke waktu lain.
    Panel Survei (Longitudinal)
    Panel survei adalah jenis survei untuk mengukur opini publik yang dilakukan secara periodik ( longitudinal). Berbeda dengan snapshot survei yang hanya mengukur opini publik dalam satu periode waktu, survei ini justru ingin melakukan survei secara periodik dalam jangka waktu terntu. Tujuan dari tracking survei adalah membandingkan dari satu waktu ke waktu lain, pergerakan opini publik. Dengan demikian, panel survei tidak hanya berpretensi memotret opini publik, tetapi juga memotret pergerakan dan perubahan opini publik. Bagaimana suara pemilih dari satu waktu ke waktu lain. Apakah suara kandidat kepal adaerah naik atau turun. Kalau naik kenapa dan kalau turun apa sebabnya. Panel survei juga berguna untuk mengeveluasi strategi. Apakah pilihan strategi yang diambil kandidat kepala daerah berguna atau tidak dalam mendongkrak suara pemilih. Kalau tidak, pilihan strategi apa yang bisa diambil dan sebagainya.
    Tracking Survei
    Tracking survei hampir mirip dengan panel survei. Keduanya dimaksudkan untuk merekam pergerakan suara pemilih. Sama dengan panel survei, tracking survei dilakukan beberapa kali. Yang membedakan adalah pada responden yang diwawancarai. Pada panel survei, wawancara akan dilakukan pada responden yang sama ( orang yang sama). Kami akan memilih sampel yang representatif, dari sampel yang terpilih itu akan terus menerus diwawancarai secara periodik. Sementara pada tracking survei, orang yang diwawancarai berbeda dari satu waktu ke waktu lain tetapi diambil dengan prosedur dan populasi yang sama. Instrumen yang dipakai dan metode penarikan sampel sama dari satu periode ke periode lain.
    Paket survei mana yang Anda pilih tergantung kepada tingkat kebutuhan dan dana yang tersedia. Segera hubungi kami, agar kami bisa menjelaskan secara detail paket yang sebaiknya Anda ambil sesuai dengan kebutuhan dan budget yang tersedia.

    Metodologi Survei


    GRC menerapkan prinsip probabilitas dalam penarikan sampel. Dalam pengambilan sampel, GRC menggunakan teknik multistage random sampling. Dengan teknik tersebut dimungkinkan setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih atau tidak dipilih menjadi responden, sehingga pengukuran pendapat dapat dilakukan dengan hanya melibatkan sedikit responden. Meski tanpa melibatkan semua anggota populasi, hasil survei dapat digeneralisasikan sebagai representasi populasi.
    Survei yang dilakukan oleh GRC mengikuti kaedah-kaedah
    sebagai berikut:
    1. Metode penarikan sampel: Multistage random sampling
    2. Jumlah responden minimal 400 (margin of error ± 5% pada tingkat kepercayaan 95%)
    3. Pengumpulan data: Wawancara tatap muka dengan responden menggunakan kuesioner
    4. Kendali mutu survei: Pewawancara berstatus minimal mahasiswa dan mendapatkan pelatihan. Wawancara dilakukan kontrol secara sistematis dengan melakukan cek ulang di lapangan (spot check) sebanyak 20 persen dari seluruh responden
    5. Validasi data: Perbandingan karakteristik demografis dari sampel yang diperoleh dari survei dengan populasi yang diperoleh lewat sensus (BPS).

    Proses Pengambilan Sampel


    Dalam pengambilan sampel untuk survei GRC menggunakan teknikmultistage random sampling. Fase pertama yang akan dilakukan adalah populasi Indonesia distrata atas dasar populasi di masing-masing provinsi di seluruh Indonesia sehingga diperoleh sampel dalam jumlah proporsional di masing-masing propinsi. Semua propinsi di Indonesia akan terjaring dalam survei ini. Strata kedua adalah pembagian atas dasar wilayah tinggal: pedesaan atau kota, yang proporsinya antara 40% (kota) berbanding 60% (desa). Di samping itu, strata juga dilakukan atas dasar proporsi populasi menurut perbedaan gender: 50% laki-laki, dan 50% perempuan.
    Fase kedua adalah menetapkan desa/kelurahan atau yang setara sebagaiprimary sampling unit (PSU), dan karena itu random sistematik dilakukan tehadap desa/kelurahan di masing-masing propinsi sesuai dengan proporsi populasi. Di masing-masing desa/kelurahan terpilih kemudian didaftar nama-nama Rukun Tetangga (RT) atau yang setara, dan kemudian dipilih sebanyak 5 RT secara random. Di masing-masing RT terpilih kemudian didaftar nama kepala keluarga pada Kartu Keluarga (KK), dan kemudian dipilih 2 keluarga secara random. Di 2 keluarga terpilih, didaftar anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan yang berumur antara 17-60 tahun. Bila dalam keluarga pertama yang terpilih menjadi responden adalah perempuan, maka pada keluarga yang kedua di RT yang sama harus laki-laki yang didaftar.

    Proses Pengambilan Sampel bisa digambarkan sebagai berikut:

    A. Survei Nasional

    Proses Pengambilan Sampel Survei Nasional
    • Populasi Desa/Kelurahan tingkat Nasional
    • Desa/Keluarahan di tingkat Provinsi dipilih secara random dengan jumlah proporsional
    • RT/lingkungan kampung dipilih secara random sebanyak 5 dari tiap-tiap desa terpilih.
    • Di masing-masing RT/lingkungan kampung dipilih secara random 2keluarga.
    • Di 2 keluarga terpilih ditetapkan secara random satu orang yang punya hak pilih (laki-laki/perempuan).

    B. Survei Provinsi, Kabupaten atau Kota

    Proses Pengambilan Sampek Survei Propinsi, Kabupaten atau Kota
    • Populasi Desa/Kelurahan tingkat provinsi
    • Desa/Kelurahan di tingkat Kabupaten dipilih secara random dengan jumlah proporsional
    • RT/lingkungan kampung dipilih secara random sebanyak 5 dari tiap-tiap desa terpilih.
    • Di masing-masing RT/lingkungan kampung dipilih secara random 2keluarga.
    • Di 2 keluarga terpilih ditetapkan secara random satu orang yang punya hak pilih (laki-laki/perempuan).



    AGITASI DAN PROPAGANDA GRC GROUPS

    Agitasi

    Dalam makna denotatifnya, agitasi berarti hasutan kepada orang banyak untuk mengadakan huru-hara, pemberontakan dan lain sebagainya. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh tokoh/aktivis partai politik, ormas dan lain sebagainya dalam sesi pidato maupun tulisan. Dalam praktek, dikarenakan kegiatan agitasi yang cenderung “menghasut” maka seringkali disebut sebagai kegiatan “provokasi” atau sebagai perbuatan untuk membangkitkan kemarahan. Bentuk agitasi sebetulnya bisa dilakukan secara individual maupun dalam basis kelompok (massa).

    Beberapa perilaku kolektif yang dapat dijadikan sebagai pemicu dalam proses agitasi adalah :

    1.Perbedaan kepentingan, seperti misalnya isu SARA (Suku, Agama, Ras). Perbedaan kepentingan ini bisa menjadi titik awal keresahan masyarakat yang dapat dipicu dalam proses agitasi

    2.Ketegangan sosial, ketegangan sosial biasanya timbul sebagai pertentangan antar kelompok baik wilayah, antar suku, agama, maupun pertentangan antara pemerintah dengan rakyat.

    3.Tumbuh dan menyebarnya keyakinan untuk melakukan aksi, ketika kelompok merasa dirugikan oleh kelompok lainya, memungkinkan timbul dendam kesumat dalam dirinya. Hal ini bisa menimbulkan keyakinan untuk dapat melakukan suatu aksi bersama;

    Dalam politik, ketiga perilaku kolektif diatas akan menjadi ledakan sosial apabila ada faktor penggerak (provokator)nya. Misalnya ketidakpuasan rakyat kecil terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada mereka juga bisa menjadi sebuah alat pemicu yang efektif untuk mendongkel sebuah rezim. Dalam tahap selanjutnya, mobilisasi massa akan terbentuk apabila ledakan sosial yang muncul dapat memancing solidaritas massa. Hingga pada eskalasi tertentu mebisa munculkan kondisi collaps.
    Dalam proses agitasi pemahaman perilaku massa menjadi penting. Agar agitasi dapat dilakukan secara efektif maka perlu diperhatikan sifat orang-orang dalam kelompok(massa) seperti ; massa yang cenderung tidak rasional, mudah tersugesti, emosional, lebih berani mengambil resiko, tidak bermoral. Kemampuan seorang agitator untuk mengontrol emosi massa menjadi kunci dari keberhasilan proses agitasi massa. Sedangkan pendekatan hubungan interpersonal merupakan kunci sukses dalam agitasi individu.

    Propaganda

    Propaganda sendiri berarti penerangan ( paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang lain agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu. Kegiatan propaganda ini banyak dipakai oleh berbagai macam organisasi baik itu orgnisasi massa, parpol, hingga perusahaan yang berorientasi profit sekalipun baik kepada kawan, lawan maupun pihak netral. Propaganda juga merupakan inti dari kegiatan perang urat syaraf (nerve warfare) baik itu berupa perang ideologi, politik, ide, kata-kata, kecerdasan, dll. Kegiatan propaganda menurut bentuknya seringkali digolongkan dalam dua jenis, yaitu propaganda terbuka dan tertutup. Propaganda terbuka ini dilakukan dengan mengungkapkan sumber, kegiatan dan tujuannya secara terbuka. Sebaliknya, propaganda tertutup dilakukan dengan menyembunyikan sumber kegiatan dan tujuannya

    1.Propaganda putih (white propaganda ), yaitu propaganda yang diketahui sumbernya secara jelas, atau sering disebut sebagai propaganda terbuka. Misalnya propaganda secara terang-terangan melalui media massa. Biasanya propaganda terbuka ini juga dibalas dengan propaganda dari pihak lainya (counter propaganda).

    2.Propaganda Hitam (black propaganda), yaitu propaganda yang menyebutkan sumbernya tapi bukan sumber yang sebenarnya. Sifatnya terselubung sehingga alamat yang dituju sebagai sumbernya tidak jelas.

    3.Propaganda abu-abu (gray propaganda), yaitu propaganda yang mengaburkan proses indentifikasi sumbernya.

    Dalam hal ini GRC akan memberikan masukan. Antisipasi  serangan agitasi propoganda yang di lakukan pihak kompetitor.

    GRC dan Teknik Observasi Intelejen

    1. Observasi dan Deskripsi. Dalam teknik ini  GCR berusaha mendapatkan informasi dengan cara mengamati dan menggambarkan obyek intelijen yang sedang diamati dengan teknologi dan jaringan yang komprehensif yang telah terbina .

    2.  Ellyciting/monitoring, teknik mendapatkan keterangan informasi dari pernyataan pihak lawan tanpa diketahui pihak lawan bahwa dirinya sedang diamati. Dan pihak lawan benar-benar tidak mengetahui bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah seorang agen intelijen yang memiliki misi tertentu.

    3.  Surveillance, merupakan teknik mendapatkan informasi dengan cara mengikuti dan memperhatikan jejak-jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkan oleh lawan/sasaran intelijen. Hal ini mirip dengan pengungkapan kasus oleh Detektif di film-film.

    4.  Tailing adalah cara mendapatkan informasi secara langsung dengan mengikuti object. Dimana sasaran tidak mengetahui dirinya sedang diawasi oleh agen intelijen.

    5.     Penyadapan/Taping adalah teknik mendapatkan informasi dengan cara melakukan penyadapan sistem komunikasi lawan/sasaran intelijen seperti telepon, jaringan internet, surat elektronik (e-mail) dan jaringan radio komunikasi, yang dilakukan secara tersembuyi (clandestine) tanpa diketahui oleh sasaran dan pihak-pihak lain. Cara ini sering dipakai KPK untuk mengungkap kasus korupsi dan menangkap para koruptor.

    6.  Penetrasi merupakan teknik mendapatkan informasi dengan cara penyusupan ke dalam objek informasi.

    7.  Surreptition Entry, yaitu teknik mendapatkan informasi dengan cara memasuki suatu tempat, ruangan ataupun bangunan yang diduga tersimpan informasi  dibutuhkan melalui jaringan atau teknik tertentu. 

    Dalam rangka menguatkan data observasi GRC, ketujuh teknik intelijen tersebut bisa kita gunakan   untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat. 


    G R C

    GIOVANNY RESEARCH CENTER


    HUBUNGI : GIOVANNY

     Hp/ WA : 085213649999



    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar